Page 2 - Warta 08 November 2020
P. 2
kedatangan Sang Raja atas segala ciptaan itu. Di saat penantian ini kita dimotivasi
untuk setia, tabah dan taat percaya atau beriman kepada-Nya.
Salah satu cerita untuk menggambarkan sikap setia dan taat itu ialah
perumpamaan tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana, yang menanti
kedatangan mempelai laki-laki. Cerita itu menggambarkan kebiasaan di masa lalu,
tentunya. Dikatakan oleh Tuhan Yesus, lima gadis tidak antisipatif sebab anggap
enteng lalu tak mengisi minyak dalam obor mereka. Padahal mereka punya banyak
waktu. Perilaku mereka berbeda dengan lima gadis yang disebut Tuhan bijaksana,
karena mereka berjaga-jaga dengan cara menyediakan cukup minyak.
Cerita itu hendak mengajak kita warga jemaat untuk menentukan pilihan di
masa penantian ini. Bencana alam, perang, kelaparan, tekanan hidup, penyesatan,
akan mewarnai kehidupan hingga datangnya kembali Tuhan Yesus. Sulitnya
kehidupan itu membuat kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12).
Ditegaskan oleh Kristus bahwa murid harus memilih untuk setia dan taat atau
“bertahan sampai kesudahannya” dan demikian mereka beroleh keselamatan (24:13).
Karena itulah, Firman Allah dalam Alkitab menjadi pedoman hidup kita, supaya
iman kepada Tuhan terus bertumbuh. Kita juga membangun kepercayaan melalui
kesetiaan berdoa dan beribadah, sekalipun masih secara online akibat krisis pandemi
Covid-19. Kita bersyukur kepada Allah atas kesetiaan para pendeta dan penatua di
jemaat untuk memungkinkan kita terus “melekat” dengan Allah maha kasih, di dalam
Tuhan Yesus Kristus.
Tantangan hidup sekarang menuntut kita bijaksana, arif. Bukan bodoh. Orang
bijaksana jelas memiliki pengetahuan. Sumber pengetahuan iman kepada Allah ialah
Alkitab. Pengetahuan bahwa zaman ini akan berakhir bila nanti Tuhah Yesus datang,
membuat kita memelihara kesetiaan bahkan kekudusan hidup. Hati dan pikiran tidak
diizinkan dicemari atau diperhamba oleh gaya hidup dunia yang hedonistik. Kita arif
menggunakan teknologi informasi dan media sosial agar sesuai tujuan mulia. Bukan
untuk pemuas hawa nafsu jahat.
Karena peduli dengan orang lain, maka kita bersama-sama mengikuti protokoler
kesehatan agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan tetap masih
melakukan ibadah secara online, kita memilih sikap bijaksana. Kita tetap antisipatif,
dalam arti bila waktunya tiba, jemaat akan beribadah seperti sedia kala. Sebagai sikap
antisipatif, kita berdoa kepada Tuhan agar pandemi Covid-19 ini segera berakhir. Ya,
Sang Kepala Gereja, dengarlah doa dan permohonan kami. Amin! [BSS]
Warta Jemaat GKI Cimahi – 8 November 2020 2

