Page 2 - Warta 30 Jul 2023
P. 2

Dari perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi ini, Yesus mau menjelaskan kepada kita
       tentang sesuatu yang kelihatannya sedikit, kecil, tidak berarti, tetapi berdampak besar. Demikian
       pula  perihal  Kerajaan  Allah  yang  tengah  Yesus  kerjakan  saat  itu.  Tampaknya  kurang  bernilai,
       seolah-olah hanya untuk orang Yahudi saja. Tetapi pada hakikatnya untuk semua bangsa di dunia.
            Ketiga, ayat 44, perumpamaan tentang harta terpendam. Ada seorang yang menemukan
       harta karun di sebuah ladang. Tetapi ia memendam kembali temuannya tersebut. Hukum yang
       berlaku waktu itu, barang siapa menemukan suatu barang maka ia menjadi pemilik sah barang
       tersebut. Ia tahu nilai barang tersebut, sangat berharga. Oleh sebab itu ia menjual seluruh harta
       miliknya. Lalu ia membeli ladang yang berisi harta karun tersebut. Sang pemilik ladang tidak
       mengetahui kalau di ladangnya terpendam harta karun. Jadi ia menjualnya dengan harga pasar.
       Si pembelilah yang cuan banyak.
            Keempat,  ayat  45,  perumpamaan  tentang  pedagang  mutiara.  Pedagang  mutiara  ini
       membeli mutiara indah bukan untuk dijual lagi dan mendapat keuntungan. Namun untuk dimiliki
       dan dipakai sendiri. Meskipun harus menjual dahulu semua hartanya, tetapi akhirnya ia memiliki
       mutiara indah yang jauh bernilai lebih.
            Dari perumpamaan ketiga dan keempat di atas, Yesus mau mengutarakan bahwa Kerajaan
       Surga  itu  sangat  berharga,  tidak  ternilai.  Kita  meyakini  semua  orang  percaya  sangat
       mendambakan Kerajaan Surga. Untuk itu jangan pernah melepaskan Kerajaan Surga dari tangan
       kita.

            Kelima, ayat 47-48, perumpamaan pukat. Pukat adalah jala yang besar dan lebar. Nelayan
       tidak  bisa  memilah-milah  apa  yang  terjaring  di  dalamnya,  segala  jenis  ikan  besar  kecil  dan
       binatang lainnya atau mungkin benda-benda yang  tidak dapat dijual. Oleh sebab itu para nelayan
       memisahkan antara ikan-ikan yang baik dengan ikan yang tidak baik atau benda-benda lainnya
       yang tidak bermanfaat. Yang baik dimasukkan ke dalam pasu (sejenis ember) dan yang lainnya
       dibuang. Dari perumpamaan ini Yesus mau mengatakan bahwa orang-orang yang taat dan setia
       di akhir zaman akan dipisahkan dari orang-orang jahat serta memperoleh Kerajaan Surga.

            Dari  paparan  perihal  perumpamaan-perumpamaan  di  atas  (kesatu  sampai  kelima),
       jelaslah bahwa Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga tidak mengacu kepada tempat, melainkan di
       mana ada pemikiran, perkataan, perbuatan dan kehidupan yang diwarnai dengan kasih Yesus
       Kristus, disitulah Kerajaan Allah/Kerajaan Surga ada. Kita selaku pengikut-Nya sudah sewajarnya
       mewujudkan Kerajaan Surga di tengah keseharian kita dengan cara meneladani segala perbuatan-
       perbuatan  Kristus.  Jikalau  kita  ada  kemauan  untuk  melakukannya,  dipastikan  Tuhan  Yesus
       Kristus akan memampukan kita. (TG)






                                                    Warta Jemaat Minggu –  30 Juli 2023  |2
   1   2   3   4   5   6   7