Page 1 - Warta 14 September 2025
P. 1
Minggu, 14 September 2025
RENUNGAN
TIDAK HINA, TETAPI BERHARGA
Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk
menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. (1
Timotius 1:15)
Di sebuah halte kecil, ada seorang anak berkulit gelap dan berpakaian lusuh mencoba duduk
di sebelah seorang wanita berpakaian bisnis. Seketika, wanita itu bangkit, mengernyit, dan
memindahkan tasnya menjauh. Tak ada kata yang diucapkan, namun bahasa tubuh itu bicara
keras: “Kau tak pantas berada di sini di dekatku”. Pemandangan itu sederhana, tapi
menyakitkan — wajah diskriminasi yang kerap tersembunyi dalam gestur-gestur kecil. Dunia
hari ini mungkin lebih maju secara teknologi, tapi dalam hal kasih, kita sering masih hidup di
padang gurun. Maka pertanyaan mendesak muncul: apakah cara kita memandang orang lain
selaras dengan cara Allah memandang mereka?
Kisah umat Israel dalam Keluaran 32:7–14 menyadarkan kita bahwa jika Allah
memperlakukan manusia seperti manusia memperlakukan sesamanya, tak satu pun dari kita
akan selamat. Mereka menyembah patung emas, menghina Allah secara terang-terangan —
namun Allah, melalui Musa, menunjukkan belas kasihan yang menakjubkan. Kita mulai
melihat pola ilahi yang mengejutkan: Allah tidak pernah melihat manusia hanya dari
kegagalannya. Di mata Allah, umat yang jatuh bukanlah hina, melainkan kesempatan untuk
anugerah. Di sinilah diskriminasi manusia bertabrakan dengan kasih Allah yang melampaui
akal.
Lalu Mazmur 51:1–10 membawa kita ke tingkat refleksi yang lebih dalam. Daud, raja besar
yang juga pendosa besar, tidak menyangkal kejatuhannya. Ia mengakuinya di hadapan Allah
dan memohon pemulihan. Ini menjadi benang merah yang menyambung pesan sebelumnya:
bahwa nilai seseorang tidak terletak pada reputasinya, tapi pada relasinya dengan Allah yang
penuh belas kasih. Ketika kita belajar melihat sesama seperti Allah melihat Daud — bukan
sebagai aib yang harus dijauhi, tetapi jiwa yang bisa dipulihkan — maka diskriminasi mulai
kehilangan cengkeramannya.

