Page 2 - Warta 22 Feb 2026
P. 2
Untuk itu mari kita merenungkan firman Tuhan yang tertulis dalam Matius 4:1-11. Yesus
dibawa oleh Roh kepada padang gurun untuk dicobai Iblis. Yesus telah berpuasa 40 hari 40
malam. Puasa yang tidak normal, bukan puasa yang lazim bagi manusia. Dalam sisi
kemanusiawiannya, Yesus pun merasa lapar. Datanglah si pencoba dan menyuruh Yesus
untuk menjadikan batu menjadi roti (ayat 3). Namun Yesus mengetahui bahwa kata-kata Iblis
tersebut bukan berasal dari Allah, tetapi upaya Iblis untuk mencobai-Nya. Yesus tidak
menggubrisnya. Yesus mengatakan bahwa manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari
firman yang keluar dari Allah (ayat 4). Yesus lebih taat kepada kehendak Allah. Gagallah jalan
pintas yang ditawarkan si Iblis.
Iblis lalu membawa “terbang” Yesus ke atap Bait Allah. Iblis menyuruh Yesus untuk
menjatuhkan diri. Karena Anak Allah pastilah akan ada pertolongan dengan segera melalui
malaikat-malaikat-Nya (ayat 5-6). Untuk kedua kalinya, Yesus tidak mengindahkan Iblis.
Yesus tidak ingin mendapatkan perlakuan dan perlindungan istimewa dari Bapa-Nya. Yesus
tidak ingin perlakuan khusus untuk kepentingan pribadinya.
Iblis, untuk ketiga kalinya membawa Yesus ke puncak gunung paling tinggi. Iblis menawarkan
semua kerajaan dunia dan isinya, asalkan Yesus mau menyembahnya (ayat 9). Tetapi Yesus
menghardiknya agar Iblis pergi menjauhi-Nya (ayat 10). Yesus tahu benar kedatangan-Nya ke
dunia ini untuk menghadirkan Kerajaan Surga, bukan kerajaan dunia seperti yang dimaui
Iblis. Dan di dalam Kerajaan Surga, hanya ada Allah yang patut dipuja dan disembah.
Ketiga tawaran Iblis di atas dapat dipatahkan Yesus karena ketaatan-Nya yang begitu purna
kepada Bapa-Nya. Itulah keteladanan yang patut kita contoh dan lakukan di dalam kehidupan
kita. Di tengah-tengah keseharian kita ada norma, peraturan, tata-tertib, undang-undang,
hukum dan lain-lainnya. Kita hendaklah patuh. Pemerintah adalah orang-orang pilihan Allah
juga (baca: Roma 13:1). Dan yang lainnya yang terpenting adalah taat kepada firman Tuhan.
Ketaatan kepada Sang Junjungan kita. Jangan sampai terjadi ada anak-anak Allah yang
melanggar hukum dengan jalan pintas seperti berbohong, menipu, korupsi,
menyalahgunakan kekuasaan/jabatan dan lain sebagainya. Biarlah keseharian kita selalu
diwarnai dengan ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Penebus dan
Penyelamat kita. Hilangkanlah ke-aku-an yang kerap mendominasi pribadi kita. (TG)
Warta Jemaat – 22 Februari 2026 | 2

