Page 22 - Warta 15 Agustus 2021
P. 22

BENAR-BENAR MERDEKA
         Agar benar-benar merdeka, seseorang perlu dimerdekakan oleh Allah. Tepatnya,
     oleh Allah di dalam Tuhan Yesus (Yoh 8:36). Dalam konteksnya, ayat ini berbicara
     tentang  kebenaran  yang  Yesus  sampaikan.  Menurut-Nya,  kebenaran  tersebut
     memerdekakan.
         Tetapi  orang  Yahudi  protes.  Mereka  menganggap  diri  mereka  keturunan
     Abraham. Umat pilihan. Kelompok manusia yang paling disayang Tuhan. Karena itu,
     mereka tidak pernah menjadi budak siapa pun (Yoh 8:33). Mereka pun protes kepada
     Yesus: kalau tidak pernah menjadi hamba, kenapa harus merdeka? (ayat 34).
         Justru  dalam  protes  itu  terlihat  mereka  tidak  merdeka.  Alasannya  ada  dua.
     Pertama, karena mereka menganggap kemerdekaan itu otomatis didapatkan. Ketika
     mereka  menjadi  keturunan  Abraham.  Kedua,  ketika  mereka  hanya  melihat
     kemerdekaan  dalam  aspek  yang  kelihatan.  Karena  melihat  mereka  tidak  ditindas
     bangsa lain.
         Padahal,  kemerdekaan  itu  perlu  diupayakan.  Perlu  perjuangan.  Walau  kita
     mengetahui, semua orang berhak merdeka, pada kenyataannya, penindasan sering
     terjadi  dalam  kehidupan  bersama.  Kolonialisme  buktinya.  Atau  penindasan  yang
     masih terjadi ketika bangsa ini merdeka. Kenapa? Sebabnya terkait dengan alasan
     kedua: karena dosa. Ya, karena dosa, manusia jadi menindas sesama.
         Dalam kitab suci kita dikatakan, salah satu sebab kenapa Hawa jatuh ke dalam
     dosa  adalah  karena  ingin  sama  seperti  Allah.  Artinya,  tidak  puas  dengan
     keberadaannya.  Tidak  bersyukur  dengan  apa  yang  Allah  sudah  anugerahkan
     kepadanya. Dosa ini lah yang mendorong orang atau sekelompok orang menindas
     sesama,  mengekspolitasi  sesama,  memperbudak  sesama.  Dosa  itu  juga  yang
     membuat manusia diperbudak oleh nafsu-nafsunya.
         Repotnya, kuasa dosa itu tidak kelihatan. Orang jadi lupa atau tidak sadar kalau
     dirinya  dikuasai  dosa.  Untuk  orang-orang  yang  diperbudak  dosa  ini,  Tuhan  Yesus
     mengurbankan  diri-Nya.  Melalui  wafat-Nya  di  atas  kayu  salib,  Ia  menawarkan
     kehidupan yang tidak dikalahkan dosa. Ia wafat karena taat kepada Bapa di sorga.
     Artinya, Ia tidak diperbuak dosa. Kebangkitan-Nya juga mendemonstrasikan hidup
     yang benar-benar merdeka: kuasa dosa tidak bisa mengalahkan-Nya.


     HATI YANG MERDEKA
         Orang yang bersekutu dengan Kristus, menurut firman Tuhan, akan benar-benar
     merdeka (Yoh 8:36).  Mengapa? Sebab ia mendapat jaminan untuk mengalahkan dosa
     dan  kuasa-Nya.  Jaminan?  Ya,  sebab  Yesus  sudah  membuktikan  itu.  Orang  yang
     bersekutu dengan kematian Kristus akan juga bersekutu dengan kuasa kebangkitan-
     Nya (Roma 6:5). Artinya, orang itu akan bisa merdeka. Ia bisa mengalahkan dosa.
     Wujud konkretnya, orang itu akan hidup harmonis dengan Allah, dirinya sendiri dan
     sesama. Ia tidak akan menindas dirinya, sesama atau memanfaatkan Allah untuk
     melayani dirinya.



       21 | Warta Jemaat - 15 Agustus 2021
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26