Page 1 - Warta 25 Juni 2023
P. 1
Minggu, 25 Juni 2023
RENUNGAN
BERSAKSI DI TENGAH PENDERITAAN
Yeremia 20 : 7 – 13 ; Mazmur 69 : 8 – 19 ; Roma 6 : 1 – 11 ; Matius 10 : 24 – 39
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa
kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya (Matius 10:39)
Minggu lalu kita diingatkan bagaimana kita menjadi orang yang mau bekerja di ladang
Tuhan. Hari ini kita diajak pula untuk bersaksi di tengah penderitaan. Apakah kita bersedia
menjadi saksi Tuhan walaupun menghadapi banyak penderitaan ?
Bersaksi di tengah penderitaan merupakan tindakan yang mungkin kurang diminati.
Orang lebih suka tinggal di zona nyaman, situasi yang aman, tidak mau menderita. Konsep orang
tentang penderitaan ada bermacam-macam. Penderitaan menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah sesuatu yang menyusahkan, yang ditanggung dalam hati seperti kesengsaraan,
penyakit, atau keadaan yang menyedihkan yang harus ditanggung. Itu berarti, segala sesuatu
yang tidak menyenangkan, menurut KBBI berarti penderitaan. Benarkah demikian? Gottfried
Wilhelm Leibniz (1646-1716), seorang filsuf asal Jerman berpendapat bahwa penderitaan adalah
bagian dari harmoni kehidupan. Memang, penderitaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.
Namun sejak awal Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa mereka akan
menghadapi penganiayaan, kebencian, penolakan ketika mereka memberi kesaksian tentang
Yesus. Memberi kesaksian berarti menceritakan kepada orang lain pengalaman yang berkaitan
dengan iman kepada Kristus. Matius 10: 24 - 39 menjelaskan bahwa Tuhan Yesus memberi
sebuah tanggungjawab kepada murid-murid-Nya, sebuah perintah untuk memikul salib. Setiap
orang memiliki salib masing-masing dan berbeda satu dengan yang lainnya. Bersaksi menuntut
Warta Jemaat Minggu – 25 Juni 2023 |1

